Sistem Kelompok

House System


 

Sistem Rumah GMIS memainkan peran penting dalam banyak aspek kehidupan sekolah GMIS. Ini memberikan identitas dalam komunitas sekolah dan integrasi antar kelompok tahun. Ini memfasilitasi berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan memberi siswa kesempatan lebih besar untuk berpartisipasi, kepemimpinan, dan kompetisi.

The GMIS House System plays an important role in many aspects of GMIS school life. It provides identity within the school community and integration across year groups. It facilitates a wide range of extra-curricular activity and gives students greater opportunities for participation, leadership and competition.

 

Setiap kelompok juga memiliki 'Visi' individu yang mempengaruhi aktivitas ekstrakurikuler mereka.

Each House also has an individual ‘Vision’ which influences their extra-curricular activities.

 

  Kartini

: Membantu orang-orang yang kurang mampu di Denpasar
: Helping to alleviate poverty in Denpasar

  Tolstoy

: Melindungi lingkungan yang terancam punah di Bali

: Protecting S.E. Bali’s endangered environment

  Lincoln

: Menyoroti perlakuan kekerasan terhadap remaja di Bali

: Highlighting teenage substance abuse in S.E. Bali

  Tagore

: Membersihkan pantai lokal

: Cleaning up local beaches


Ada empat kelompok masing-masing dengan warna mereka sendiri. Semua siswa mengenakan kaos kelompok masing-masing pada hari-hari olahraga dan kegiatan khusus. Keempat kelompok tersebut adalah:

There are four Houses each with their own colour. All students wear their respective House T-shirts on sports and special activity days. The four Houses are:

Kartini Flag

Kartini House - Kuning / Yellow


Dinamai berdasarkan Ibu Raden Ayu (Ajoe) Kartini, pahlawan nasional Indonesia. Ibu Kartini dikenal sebagai pelopor dalam bidang hak-hak perempuan di Indonesia dan ia dihormati setiap tahun pada Hari Kartini (21 April). Dia mengangkat status perempuan di Indonesia dan juga seorang tokoh nasionalis dengan ide-ide baru yang berjuang atas nama rakyatnya.

Named after Ibu Raden Ayu (Ajoe) Kartini, an Indonesian national heroine. Ibu Kartini is known as a pioneer in the area of women's rights in Indonesia and she is honored every year on Kartini Day (21 April). She elevated the status of women in Indonesia and was also a nationalist figure with new ideas who struggled on behalf of her people.

Tolstoy Flag

Tolstoy House - Merah / Red


Dinamai berdasarkan Leo Tolstoy, penulis Rusia dan filsuf moral. Sebagai penulis fiksi, Tolstoy secara luas dianggap sebagai salah satu novelis terhebat di antara semua novelis, terutama terkenal karena karya besarnya War and Peace dan Anna Karenina. Sebagai seorang filsuf moral, Tolstoy terkenal karena gagasan-gagasannya tentang perlawanan tanpa kekerasan, yang pada gilirannya memengaruhi tokoh-tokoh abad kedua puluh seperti Mohandas K. Gandhi dan Martin Luther King, Jr.

Named after Leo Tolstoy, Russian writer and moral philosopher. As a writer of fiction, Tolstoy is widely regarded as one of the greatest of all novelists, particularly noted for his masterpieces War and Peace and Anna Karenina. As a moral philosopher, Tolstoy was notable for his ideas on nonviolent resistance, which in turn influenced such twentieth-century figures as Mohandas K. Gandhi and Martin Luther King, Jr.

Lincoln Flag

Lincoln House - Hijau / Green


Dinamai berdasarkan nama Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16 dan penentang keras perbudakan. Lincoln biasanya dipandang sebagai perwujudan nilai-nilai klasik kejujuran dan integritas serta penghormatan terhadap hak-hak individu dan minoritas, dan kebebasan manusia secara umum.

Named after Abraham Lincoln, the 16th President of the United States and an outspoken opponent of the expansion of slavery. Lincoln is usually seen as personifying classical values of honesty and integrity as well as respect for individual and minority rights, and human freedom in general.

Tagore Flag

Tagore House - Biru / Blue


Penyair, filsuf, seniman visual, dramawan, novelis, dan komponis India yang mencoba memperdalam saling pengertian budaya India dan Barat. Ia menjadi Pemenang Nobel pertama di Asia ketika ia memenangkan Hadiah Nobel untuk Sastra tahun 1913. Rabindranath Tagore mendirikan Santiniketan, sekolah cita-citanya, yang premis utamanya adalah bahwa belajar di lingkungan alami akan lebih menyenangkan dan bermanfaat. Setelah ia menerima Hadiah Nobel, sekolah tersebut secara bertahap berkembang menjadi Universitas Internasional bernama Visva Bharati.

Indian poet, philosopher, visual artist, playwright, novelist, and composer who tried to deepen mutual Indian and Western cultural understanding. He became Asia's first Nobel Laureate when he won the 1913 Nobel Prize for Literature. Rabindranath Tagore founded Santiniketan, the school of his ideals, whose central premise was that learning in a natural environment would be more enjoyable and fruitful. After he received the Nobel Prize, the school gradually developed into an International University named Visva Bharati.